5 Tanda Haji Mabrur

5 Tanda Haji Mabrur

Berita Islam

Kesehatanhaji.com – Haji merupakan rukun Islam yang kelima. Setiap muslim di seluruh dunia ingin menunaikan ibadah haji, mereka rela melakukan perjalanan jauh dan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Pada kesempatan kali ini, kita akan memberikan gambaran Tanda-tanda Haji Mabrur pada seseorang yang telah berhaji.

Pahala Haji Mabrur adalah Surga

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

والْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

Haji yang mabrur tidak lain pahalanya adalah surga

(HR. Bukhari & Muslim)

Inilah pahala yang ingin diraih setiap muslim di seluruh dunia, mendapatkan balasan Surga dari Allah.

Tidak Semua Orang yang berhaji mendapat Haji Mabrur

Mabrur berarti diterima oleh Allah. Bagaimana amalan orang yang berhaji bisa diterima oleh Allah? Tentu ada syarat-syaratnya. Secara umum syarat diterimanya amalan ada 2, yang pertama adalah Ikhlas dan yang kedua adalah sesuai dengan sunnah yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam.

Bisa jadi hajinya Sah, sehingga gugur kewajiban menunaikan ibadah haji, tapi belum tentu mabrur. Mabrur dapat dilihat dari tanda-tandanya

5 Tanda Haji Mabrur

Berikut adalah beberapa tanda Haji Mabrur yang dihimpun dari bermacam sumber terpercaya.

# 1. Harta yang digunakan berhaji adalah harta yang halal, bukan harta haram

Seorang wanita penjual minuman keras berhaji dengan uang hasil bisnis minuman kerasnya tadi. Maka kemungkinan besar Hajinya tidak diterima oleh Allah, atas dasar sabda Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam :

إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا

Sungguh Allah baik, tidak menerima kecuali yang baik” (HR. Muslim)

Maka sudah seyogyanya orang yang ingin mendapatkan Haji yang Mabrur, mempersiapkan harta yang halal untuk bekal ia berhaji. Jangan sampai harta haram yang digunakan untuk berhaji.

# 2. Ikhlas dan Sesuai Tuntunan Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam

Seperti yang sudah kami sebutkan sebelumnya bahwa syarat diterimanya amal adalah ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Dasarnya Hadist Nabi shallallahu’alaihi wa sallam :

عَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits).

Ikhlas inilah yang pada zaman ini susah sekali dilakukan, betapa banyak orang yang menunaikan ibadah haji, namun mereka banyak berfoto-foto kemudian dibagikan ke Internet, baik Facebook, Grup Whatsapp dan lain sebagainya. Hal-hal semacam inilah yang berpotensi merusak keikhlasan seseorang dalam menunaikan ibadah haji.

Dikisahkan, ada seorang yang saat beribadah haji sangat bersemangat sekali, sehingga perjalanan berat dalam Ibadah Haji tidak berasa. Suatu saat, ketika ia sudah pulang berhaji, Ibunya memintanya untuk mengambilkan segelas air minum. Ia merasa keberatan, badannya seolah sangat sulit digerakkan sehingga ia teringat semasa dulu dia berhaji, semua terasa ringan. Ia baru menyadari bahwa dulu, dia berhaji terasa ringan karena dilihat oleh banyak orang, dipuji banyak orang, berbeda dengan kondisinya saat ini. Ibunya yang sangat mulia sedang membutuhkan segelas air, namun ia sangat berat melakukan perintahnya. Akhirnya ia menyadari kesalahannya.

# 3. Dipenuhi dengan Amalan Baik saat menunaikan Ibadah Haji

Salah satu tanda Haji yang dilakukan mabrur adalah saat melakukan ibadah haji seseorang tersebut juga melakukan banyak amalan-amalan kebaikan. Salah satu yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam adalah dengan memberi makan dan berkata-kata yang baik. Dasarnya sebuah Hadist :

Suatu ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang haji mabrur, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab :

إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَطِيبُ الْكَلاَمِ

“Memberi makan dan berkata-kata baik.”

(HR. Al-Baihaqi)

# 4. Tidak Berbuat Maksiat Selama Ihrom

Perbuatan Maksiat adalah perbuatan yang dilarang, dalam keadaan ihrom maupun dalam keadaan tidak berihrom. Khusus dalam Haji, Allah subhanahu wa ta’ala melarang rafats, fusuk, dan jiddal. Dasarnya Firman Allah dalam QS. Al-Baqoroh ayat 197 :

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلاَ رَفَثَ وَلاَ فُسُوقَ وَلاَ جِدَالَ فِي الْحَجِّ

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang diketahui, barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan-bulan itu untuk mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, fusuq dan berbantah-bantahan selama mengerjakan haji.

Rafats adalah melakukan hubungan badan ketika sedang ihram dan hal-hal yang mengarah kepadanya, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan.

Fusuq adalah semua perbuatan maksiat atau keluar dari ketaatan kepada Allah

Jidal adalah perdebatan dalam hal-hal yang tidak berguna, atau dalam hal-hal yang telah dijelaskan Allah kepada hamba-hamba-Nya, termasuk dalam jidal yaitu perdebatan yang membuat kegaduhan, menyerukan kebatilan dan mengaburkan kebenaran.

 

# 5. Menjadi Lebih baik setelah Berhaji

Ini adalah salah satu tanda yang paling mudah dilihat dari seorang yang hajinya diterima oleh Allah. Menjadi lebih baik setelah berhaji, amalan kebaikannya semakin bertambah, akhlaknya semakin baik dan kebaikannya semakin bisa dilihat.

Namun ada beberapa orang yang telah berhaji, tidak berubah sikapnya, perbuatannya, akhlaknya, maka kemungkinan besar hajinya tidak mabrur (tidak diterima oleh Allah).

Adapula orang yang kebaikannya bertambah saat pulang dari berhaji, namun setelah 2 bulan 3 bulan, sikapnya kembali ke asal sebelum ia berhaji. Wallahua’lam

Itulah beberapa tanda Haji yang Mabrur (Diterima oleh Allah) semoga bermanfaat.

 

Rujukan :

https: //almanhaj.or.id/411-makna-rafats-fasik-dan-jidal-dalam-haji-faedah-meninggalkan-rafats-dan-semua-maksiat-dalam-haji.html

https: //muslim.or.id/1891-tanda-tanda-haji-mabrur.html

https: //muslim.or.id/21418-penjelasan-hadits-innamal-amalu-binniyat-1.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *