Pilih Berangkat Bertugas atau Menemani Anak yang dirawat di ICU

Psikometri
Kesehatanhaji.com – Alhamdulillah kita masih diberikan oleh Allah subhanahuwata’ala kesehatan sampai hari ini. Tak lupa marilah kita bershalawat atas Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam karena dengan bimbingan beliau lah kita dapat mendapatkan nikmat hidayah Islam.
Hari ini saya akan sharing salah satu permasalah yang mungkin akan terjadi saat tes psikometri ataupun saat akan berangkat bertugas sebagai petugas kesehatan haji Indonesia tahun ini. Judul ini sebenarnya terinspirasi dari seorang penanya di Facebook Page kami. Ketika beliau melakukan tes psikometri yang lalu ditanya :

Apabila anak anda sakit dan harus dirawat di ICU sedangkan anda sudah ditetapkan sebagai Petugas Kesehatan Haji Indonesia, mana yang akan lakukan :
a. Menunggu anak yang sedang dirawat di ICU
b. Tetep berangkat bertugas sebagai Petugas Kesehatan Haji Indonesia
Pertanyaan ini sebenarnya tidak memiliki jawaban yang pasti, bahkan mungkin dokter spesialis kedokteran jiwa sendiri pun bingung kalau harus menjawabnya. Kalau ini merupakan bagian dari tes psikometri maka biarlah berlalu.
Permasalahannya adalah apabila ternyata memang anda dinyatakan lolos dan ditetapkan sebagai petugas kesehatan haji Indonesia, sedangkan kondisi anak anda sakit dan dirawat di ICU, maka manakah yang anda pilih?
Saya tidak akan memberikan jawaban pasti, karena ini sebenarnya bukan pertanyaan, tapi lebih ujian. Ujian itu bukan diselesaikan dengan hanya memberikan jawaban, namun dengan memberikan penyelesaian dan penjelasan yang masuk akal. Baiklah mari kita kupas satu persatu penyelesaian mana yang cocok dengan kondisi beliau tersebut.
Penyelesaian yang pertama :

Menunggu anak yang sedang di rawat di ICU

Anak adalah amanah dari Allah kepada sebuah keluarga. Namun tidak setiap keluarga diberikan amanah berupa anak oleh Allah subhanahuwata’ala. Menjaga anak adalah kewajiban yang diamanahkan oleh Allah kepada kita. Baik dikala sehat maupun sakit. Memberikan pendidikan, kehidupan yang layak, dan mengajarinya tentang akhlak.
Apabila anak sakit, maka sudah menjadi kewajiban orang tua untuk menjaganya, dan pasti anak akan sangat senang apabila orang tua sendiri yang menemani. Pahala bersabar atas menemani orang yang sakit adalah  sangat besar. Rasululloh bersabda :
“Tidaklah seseorang diberi pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Al-Bukhari no. 1469 dan Muslim no. 2421) dikutip dari muslimafiyah

Bagaimana dengan tugas sebagai Petugas Kesehatan Haji Indonesia? Apakah bisa dibatalkan?

Pastinya saya kurang mengetahui, dan alangkah baiknya selalu dikomunikasikan dengan pihak Panitia Rekrutmen Petugas Kesehatan Haji Indonesia, baik ditingkat Provinsi atau Nasional. InsyaAllah, pasti ada jalan insyaAllah

Pada pelatihan tahun 2014 dan sebelum-nya, sistem rekrutmen PKHI menggunakan sistem cadangan, artinya apabila nanti jumlah petugas yang dibutuhkan untuk 60 kloter, maka yang dimasukkan nominasi pelatihan bisa lebih dari itu. Hal ini merupakan upaya pemerintah untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan misalnya : tiba-tiba petugas kesehatan haji yang ditetapkan sakit mendadak, kecelakaan atau bahkan meninggal sebelum bertugas. Termasuk di dalamnya mungkin terjadi kasus seperti ini.
Sedangkan pada rekrutmen petugas kesehatan haji Indonesia musim 1436 H / 2015 M, calon petugas yang direkrut harus pas, tidak boleh lebih. Kalau petugas yang direkrut untuk 60 kloter, maka harus pas untuk 60 kloter. Ini sesuai dengan rekomendasi dari KPK.

Bagaimana kalau ternyata nanti ada hal-hal yang tidak diinginkan setelah petugas ditetapkan menjadi petugas kesehatan haji?

Posisi yang kosong tersebut akan digantikan oleh fasilitator pelatihan dengan segala konsekuensinya. Jadi fasilitator memang bisa menjadi petugas kesehatan haji lagi, tapi hanya pada keadaan seperti tadi.

Pada tahun kemarin, salah satu dokter TKHI dari SUB tidak dizinkan berangkat karena setelah dites sebelum keberangkatan ke tanah suci hamil kurang dari 14 minggu, padahal saat pelatihan terakhir dia tidak hamil. Saat itu posisi beliau sudah di Asrama Haji bersama dengan Jemaah haji yang lain, namun karena terdapat aturan seperti itu, beliau terpaksa tidak berangkat sebagai petugas kesehatan haji Indonesia. Beliau sangat bersyukur karena Allah memberikan rejeki dari arah yang tidak disangka-sangka, walaupun saat itu beliau sempat kecewa. Posisi beliau secara otomatis digantikan oleh fasilitator saat itu.

Tetap Berangkat Sebagai Petugas Kesehatan Haji Indonesia

Keuntungan Berangkat Sebagai Petugas Kesehatan Haji Indonesia :

  • Menjaga amanah yang diberikan oleh Allah subhanahuwata’ala dan pemerintah
  • Bisa menyertai jemaah haji dan berkesempatan berhaji
  • Bisa mendo’akan anak yang sedang dirawat di ICU Indonesia, banyak sekali tempat yang mustajab untuk berdo’a disana. Bisa memohonkan ampun semua keluarga, sanak saudara.
  • Mendapatkan pengalaman yang berharga, sebagai pelayan jemaah haji. Bila ingin menjadi petugas lagi, insyaAllah akan memperoleh nilai tambah tersendiri.

Kerugian Berangkat Sebagai Petugas Kesehatan Haji Indonesia :

  • Tidak bisa menemani anak yang sedang sakit
  • Hajinya akan teranggu karena akan selalu memikirkan anak yang dirawat di ICU. Salah satu syarat Haji adalah istithoah, baik istithoah jasmani, rohani, ekonomi maupun keamanan. Istithaah ekonomi berarti tidak meninggalkan keluarga dalam kondisi ekonominya kurang, dan istithoah keamanan berarti aman bagi keluarga, baik secara kesehatan maupun yang lain untuk ditinggalkan. Mungkin bisa disiasati dengan salah satu (Ayah/Ibu) nya saja yang menemani anak yang dirawat di ICU. Kalaupun memang terpaksa dengan cara seperti itu, komunikasi antara Ayah/Ibu anak tersebut tidak boleh putus. Suami Istri memang tidak boleh daftar petugas kesehatan haji dalam satu periode yang sama.
Sebenarnya ada banyak penyelesaian yang mungkin dilakukan, namun saya sarankan : tempuh dulu jalur diplomasi dan minta petunjuk kepada Allah agar diberikan pilihan yang terbaik. Apakah berangkat ataukah menemani si kecil amanah dari Allah. Niat baik akan selalu dicatat sebagai suatu kebaikan dan Allah tidak menilai hasilnya, namun kesabaran dalam berproses memperoleh keridhoannya.

Bagaimana Menurut Kalian? Pilih yang mana? Tinggalkan Komentar ya

Sekian ada kurang lebihnya saya mohon maaf. Silahkan meninggalkan komentar, jazakumullaho khoiron

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *