Pengalaman Cuci Darah Jemaah Haji Umroh Mei 2017 di Arab Saudi

pengalaman cuci darah saat umroh 2017

Kesehatanhaji.com – Beberapa waktu lalu, media sosial heboh dengan adanya pemberitaan Calon Jemaah Haji gagal berangkat ke tanah suci karena menderita gagal ginjal kronis yang harus menjalani cuci darah rutin. Kali ini kami ingin membagikan salah satu pengalaman cuci darah di Arab Saudi saat Umroh bulan Mei 2017 kemarin.

pengalaman cuci darah saat umroh 2017

Pengalaman Cuci Darah saat Umroh 2017

Lagi ramai berita tentang seorang bapak yang batal berangkat ibadah haji karena gagal ginjal.
Saya jadi ingin memberi sedikit tanggapan sebagai keluarga pasien gagal ginjal.

Papa mertua saya memiliki penyakit gagal ginjal. Beliau harus cuci darah 2x seminggu, setiap hari senin dan kamis. Dimana tiap cuci darah, membutuhkan waktu 4 jam (belum PP dari rumah ke RS). Jadi taruhlah, total waktu yang dibutuhkan minim 5 jam untuk sekali cuci darah.

 

Sulit Mencari Travel Umroh yang Memfasilitasi Cuci darah

Waktu umroh Mei lalu pun, saya musti mempersiapkan ini itu dengan cukup banyak dan agak ribet. Dimulai dari mencari Travel yang bisa memfasilitasi cuci darah 2x selama di Arab bukanlah perkara mudah.

Lebih dari 10 travel yang saya temui memang tidak bisa meyakinkan saya bahwa mereka memang betul-betul bisa memfasilitasi pasien gagal ginjal. Sungguh sangat tidak mudah. Adapun yang menyanggupi menerima pasien gagal ginjal sebagai jamaahnya, hanya 3-4 Travel. Namun itupun, mereka selalu bilang, “Bisa bu, nanti biar dibantu muthowif kami disana“. Sudah, begitu saja. Tanpa memberi saya instruksi untuk mempersiapkan dokumen atau apapun sebagai kelengkapan cuci darah selama umroh.

Dan sebagian besar travel sisanya malah justru berkata, “Maaf mbak, bapak sebetulnya sudah gugur kewajibannya untuk ibadah umroh / haji. Jadi sebenarnya itu sudah tidak wajib kok mbak. Kan kesehatannya sudah tidak memungkinkan lagi“.

Ini yang membuat kami jadi maju mundur untuk berangkat umroh sekeluarga. Bagaimana mungkin kami bisa berangkat umroh jika kepastian cuci darah selama di Arab belum jelas?

Lalu saya bertemu dengan travel Shafira, salah satu travel terbesar di Surabaya. Mereka sangat profesional, memberi kami info dan instruksi, apa-apa saja yang harus dipersiapkan, termasuk dokumen-dokumen ini itu dalam bahasa Inggris, plus harus cek lab ini-itu. Itupun, mereka tidak berani memberi “hitam diatas putih”, menjanjikan papa mertua betul-betul bisa cuci darah. Jadi travel hanya sebatas memfasilitasi. Dan kami tidak bisa mengambil tour yang lebih panjang waktunya, karena khawatir kondisi kesehatan papa mertua (hanya umroh reguler saja tanpa Turki, dll.. Yang sekarang sering menjadi paket umroh plus plus)

Di Arab untuk cuci darah memang gratis, namun kami juga harus bayar lebih sesuai kesepakatan sebagai ganti transportasi dan akomodasi untuk sekali perjalanan pulang pergi ke RS. (kalau 2x cuci darah ya berarti biaya dikali 2).

Bismillah akhirnya kami berangkat umroh sekeluarga, setelah diwanti-wanti pihak travel bahwa papa mertua harus didampingi keluarga dan menggunakan kursi roda (bawa sendiri dari Indonesia). Meskipun sebetulnya secara fisik papa mertua masih relatif sehat, bisa jalan, naik tangga, bahkan praktek dan mengoperasi pasien.

 

Cuci Darah Di RS Arab Saudi Saat Umroh

Lalu apakah disana langsung lancar melaksanakan cuci darah?

Oh tentu tidak…

Untuk cuci darah pertama di RSU Madinah, hari ketiga kami disana, papa mertua bersama mama mertua dan suami saya berangkat bersana muthowif ke RS sekitar jam 4 sore. Disanapun sempat tidak dihiraukan oleh pihak RS, karena dianggap bukan “kondisi urgent”. Itupun juga sempat dilempar kesana kemari, seakan tidak ada kejelasan akan diapakan papa mertua saya itu.

Setelah melalui proses panjang, akhirnya papa mertua saya berhasil melakukan cuci darah di hari keempat pada jam 8 pagi. Selama itu ngapain aja? Ya menggelandang ga jelas. Saking ga jelasnya, tuh suami saya yang tidur ngemper di kursi RS sampai dikasi uang 5 Real oleh seseorang begitu saja. Saking melasnya

Beda di RSU Mekah untuk cuci darah papa mertua selama di Arab, lebih cepat memang prosesnya, namun apakah mudah? Ya tidak juga.

Intinya, berangkat umroh dengan membawa keluarga yang butuh cuci darah dan penderita diabetes itu punya tantangan tersendiri. Butuh persiapan matang jauh-jauh hari. Dan harus ditemani keluarga yang jauh lebih kuat dan sehat untuk mendampingi. Karena pasien gagal ginjal, kalau sudah dalam kondisi drop, subhanallah deh perawatannya. Saya merasakan sendiri bagaimana deg-degan nya membersamai pasien gagal ginjal.

Namun alhamdulillah sekali, perjalanan umroh kami kemarin begitu dimudahkan oleh Allah..

 

Gagal Berangkat Haji Karena Gagal Ginjal Kronis Butuh Cuci Darah Rutin

Kembali ke berita viral mengenai bapak dosen yang gagal ginjal dan batal berangkat ibadah haji. Saya kurang paham karena masih ada kesimpang siuran berita. Ada yang bilang, bapak tersebut sudah diberi tahu jauh hari namun mengabaikan. Ada yang bilang, bapak tersebut sengaja cuci darah sebelum tes kesehatan awal, makanya bisa lolos dan baru ketahuan di akhir, saat akan berangkat ibadah haji.

Berita tersebut bisa dibaca di:

http://www.republika.co.id/berita/jurnal-haji/berita-jurnal-haji/17/07/29/otth8r361-usaha-ramli-menabung-untuk-haji-sirna-menjelang-berangkat

http://intisari.grid.id/Intisari-News/Sedih-Sudah-Menabung-Selama-7-Tahun-Calon-Jemaah-Haji-Ini-Tiba-Tiba-Batal-Berangkat-Karena-Dinyatakan-Gagal-Ginjal

Rasanya kurang bijak lah jika mengatakan “Tidak apa-apa kami siap dengan resikonya mati disana pun tak apa”. Dan banyak komentar netizen lain yang mengatakan hal serupa, bahkan sampai menghujat lembaga haji tersebut.

Perlu diketahui, ibadah umroh dan haji itu sebagian besar justru ibadah fisik yang membutuhkan stamina kuat. Harus dipersiapkan dengan matang jauh hari sebelumnya. Kalaulah memang tidak bisa ibadah haji karena terlalu lama di Arab dan memang demikianlah peraturan dari Indonesia, ya mau bagaimana lagi, mungkin bisa diganti umroh seperti keluarga kami.

Haruslah legowo, jangan memaksakan hingga berusaha menutupi penyakit yang diderita hingga membohongi hasil pemeriksaan. Ibadah yang baik seharusnya dibersamai dengan ikhtiar yang baik. Pun mungkin kedepannya, pihak Departemen Agama Indonesia ada solusi yang lebih baik, hingga bisa memfasilitasi jamaah haji yang memiliki penyakit berat seperti gagal ginjal ini salah satunya.

Pict: papa mertua yang kece badai di depan pintu masuk Masjidil Haram

(picture tidak ditampilkan)

#winawibowo

#notetomyself

Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10209785014848442&id=1423800489&refid=7&ref=opera_speed_dial&_ft_=qid.6448889156934089293%3Amf_story_key.-7311312595051309155%3Atop_level_post_id.10203626947631642&__tn__=%2AsH-R&fbt_id=10209785014848442&lul&ref_component=mbasic_photo_permalink_actionbar&_rdr#s_ba3768af752ef13de36390ffe7e8c26a

 

Demikian pengalaman salah seorang jemaah umroh yang mengalami beberapa kesulitan saat ingin mencuci darah mertua nya yang sakit gagal ginjal kronis. Demikian juga saat pelayanan kesehatan haji dengan cuci darah, sama ribetnya. Tercatat penderita gagal ginjal kronis dengan cuci darah (hemodialisa) atau dengan Peritoneal Dialisis dapat menunaikan ibadah haji terkahir pada tahun 2015, setelah itu, penderita gagal ginjal dengan hemodialisa di kategorikan pada tidak memenuhi kriteria isthitho’ah kesehatan.

Semoga pelayanan kesehatan haji dan umroh semakin baik lagi, aamiin

About Syaifuddin Zuhri 134 Articles
Seorang muslim, praktisi medis di sebuah rumah sakit provinsi, lulusan fakultas kedokteran Undip, alumni TKHI 2015 SUB 25

Be the first to comment

Kami bukan PANITIA REKRUTMEN, terima kasih telah menyesuaikan pertanyaan/komentar