Pencegahan Penyakit Meningitis Meningokokus saat Ibadah Haji

Kesehatanhaji.com – Kali ini saya akan membahas masalah Pencegahan dan Penatalaksanaan Meningitis Meningokokus pada Ibadah Haji. Pembahasan ini saya sarikan dari buku pembekalan operasional kesehatan haji dan saya sesuaikan agar mudah di mengerti oleh masyarakat awam.

Pengertian Meningitis

Meningitis meningokokus adalah penyakit menular yang sering terbawa oleh jamaah haji Indonesia. Penyakit ini merupakan penyakit infeksi yang menyerang selaput otak atau sumsum tulang (meningens) yang terjadi secara akut dan cepat menular. Penyakit ini bisa mangakibatkan kematian dan apabila pasien sembuh bisa menimbulkan kecacatan seperti hilang pendengaran atau tuli, tidak bisa melihat atau buta dan mungkin juga bisa menderita penyumbatan aliran LCS (hidrosefalus).

Sejarah mencatat bahwa pada tahun 1989 pernah terjadi infeksi pada jemaah haji asal Indonesia sebanyak 99 kasus ketika menunaikan ibadah haji dan jumlah yang meninggal pada waktu itu 40 orang. Penyakit ini sangat mudah menyebar melalui kontak sekret atau lendir di saluran pernafasan, bisa berupa ingus, ludah ataupun dahak. Maka perlu adanya kewaspadaan dini agar penyakit ini tidak menyebar lagi pada jamaah haji.

Biasanya wabah ini terjadi pada musim panas yang panjang dan kering. Perbedaan suhu tubunh dengan lingkungan serta pengaruh udara di sekitar akan mempengaruhi sel-sel tubuh yang berada dalam rongga mulut dan hidung, sehingga sel-sel tersebut lebih mudah rusak. Kondisi ini akan mempermudah masuknya bakteri ke dalam tubuh, kemudian akan menyebar ke dalam darah dan menyebabkan peradangan selaput otak atau meningitis. Hal ini perlu diwaspadai oleh petugas kesehatan haji, terutama apabila musim haji terjadi pada musim panas seperti saat ini. Selalu ingatkan jemaah haji untuk menjaga kesehatannya.

Cara Penularan Penyakit Meningitis pada Jemaah Haji

Kuman penyebab meningitis akan dapat hidup aktif bila berada dalam tubuh manusia, kuman ini akan berkembang biak di daerah nasofaring sebelum menyebar melalui pembuluh darah kemudian menyerang selaput otak dan selaput sumsum tulang. Kuman meningitis akan mati apabila berada diluar tubuh manusia, bila terkena pengeringan dan terkena sinar matahari, namun kuman ini tahan terhadap pembekuan ataupun udara dingin.

Jalur penularan yang paling sering adalah melalui kontak misalnya melalui bersin atau batuk atau sekret yang tidak sengaja terpegang. Pada saat kondisi haji atau saat pelayanan haji penularan bisa karena tinggal bersama di asrama, berbagi alat makan, sikat gigi dan mungkin rokok. Sehingga bila ada satu orang jemaah sakit meningitis, maka seluruh pemondokan harus dilakukan pemeriksaan.

Cara Mengenali Gejala dan Tanda Infeksi Meningitis Pada Jemaah Haji

Gejala dan tanda Meningitis biasanya ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang :

Anamnesis pada awal perjalanan penyakit ditemukan gejala demam mendadak, sakit kepala, mual dan muntah, anoreksia, sakit pada sendi. Apabila pasien belum pernah imunisasi meningitis biasanya akan berlanjut menjadi gejala yang lebih berat, gejala lanjut ini bisa berupa : kaku kuduk, kejang, kemerahan di kulit (rash, petechie, vesicular, echymosis), kesadaran menurun (delirium, shock dan koma)

Pemeriksaan penunjang yang bisa dilakukan adalah pemeriksaan cairan sumsum tulang (LCS atau Liquor cerebro spinalis) dengan lumbar puncture, pemeriksaan darah tepi biasanya akan ditemukan peningkatan atau penurunan sel darah putih (bisa leukositosis atau leukopeni) dan trombositnya bisa naik ataupun turun, tidak spesifik.

Pencegahan Infeksi Meningitis pada Jemaah Haji

Pencegahan bisa dilakukan oleh para jemaaah haji yang akan berangkat menunaikan ibadah haji :

  1. Pemberian Vaksin meningitis maksimal 10 hari sebelum keberangkatan, kecuali jemaah haji hamil
  2. Memelihara kebersihan diri dan lingkungan (sampah dan ventilasi) yang baik
  3. Tidak berbagi alat makan dan minum dan juga alat-alat untuk kebersihan badan dengan orang lain
  4. Makan makanan yang bergizi, cukup minum dan cukup istirahat
  5. Selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah makan atau minum dan juga setelah bersin atau batuk dengan kertas bersih yang menyerap cairan kemudian membuangnya ke tempat sampah
  6. Mengenakan masker saat keluar pemondokan dan ketika sakit, kecuali sedang ihram.
  7. Menghindari tempat umum yang ramai dan berdesak-desakan yang tidak ada kaitannya dengan prosesi ibadah haji, terutama bila dalam keramaian tersebut ada orang yang sakit batuk atau pilek
  8. Menghindari kontak percikan air ludah, dahak ingus dan cairan bersin dari orang lain
  9. Berusaha menghindari kontak dengan pasien yang suspek meningitis.

Sejak diberlakukannya vaksinasi meningitis pada jemaah haji, hampir tidak ada jemaah haji yang terkena meningitis, hal ini merupakan sebuah lompatan besar dalam bidang kesehatan medis untuk pelayanan penyelenggaran ibadah haji yang lebih baik.

About Syaifuddin Zuhri 133 Articles
Seorang muslim, praktisi medis di sebuah rumah sakit provinsi, lulusan fakultas kedokteran Undip, alumni TKHI 2015 SUB 25

Be the first to comment

Kami bukan PANITIA REKRUTMEN, terima kasih telah menyesuaikan pertanyaan/komentar