Mengenal Tes Psikometri : MMPI

Kesehatanhaji.com – Tes MMPI (Minnesota Multiphasic Personality Inventory) adalah tes psikometri yang digunakan sering untuk mengukur psikopatologi orang dewasa. Tes ini biasanya digunakan secara luas oleh perusahaan perusahaan baik nasional maupun internasional untuk mengukur psikopatologi calon pegawai yang akan bekerja di perusahaan. Tujuan dari tes ini adalah memberikan gambaran tentang dimensi-dimensi kepribadian dan psikopatologi yang penting dalam klinik psikiatri secara akurat.

Sejarah MMPI

MMPI merupakan salah satu instrumen yang dikembangkan untuk menilai psikis seseorang. PErtama kali dikembangkan pada tahun 1930 oleh seorang psikolog Starke R Hathaway PhD dan psikiater Dr JC McKinley di Universitas Minnesota. MMPI kemudian disempurnakan atau direvisi pada tahun 1989 menjadi MMPI-2 dan dikembangkan atau diadaptasi untuk versi remaja menjadi MMPI-A, dan juga menjadi MMPI-3 untuk versi singkatnya.

Aspek yang dinilai dalam MMPI

Pada awalnya, tes MMPI ini dibentuk dengan menggabungkan 1000 item terpilih dari berbagai macam kasus dan sumber medis yang pernah dikerjakan oleh Starke R Hathaway dan JC McKinley. Sumber tersebut berupa sejarah kasus, laporan psikologis, buku bacaan dan tes-tes yang saat itu sudah ada. Kemudian dari 1000 item pertanyaan tersebut disederhanakan lagi menjadi 504 item, penyederhanaan ini dilakukan karena ada beberapa pertanyaan yang saling terkait dan tidak bisa dipisahkan. Setelah itu dikembangkan sistem skala yang ditentukan secara empiris kepada kelompok kriteria dan kelompok kontrol.

Skala dalam Tes MMPI

Tes MMPI berisikan skala validitas (skala ?, skala L, skala F, dan skala K) dan skala klinis (skala 1 sampai dengan skala 0).

Skala Validitas

Skala ? :

  1. Skala yang disebut sebagai skala tidak tahu adalah sejumlah pernyataan yang dibiarkan kosong.
  2. Yang dianggap skor tinggi adalah 30 atau lebih butir pernyataan yang tidak dijawab. Dan apabila ini terjadi, maka tes MMPI dikembalikan kepada individu untuk mengisi yang dikosongkan.
  3. Bila seseorang mengisi tidak kurang dari 10 butir pernyataan, maka dibiarkan saja karena tidak mempengaruhi hasil.
  4. Seseorang yang banyak tidak mengisi butir pernyataan, biasanya tergolong orang yang tidak kooperatif, kurang dapat mengambil keputusan karena ragu-ragu, terlalu berintelektualisasi, dan terkadang memiliki ciri-ciri obsesif.

Skala L (Lie Scale) :

  1. Skala yang terdiri dari 15 pernyataan yang berisi kekurangan-kekurangan kecil yang terdapat pada setiap orang, dan setiap orang itu rela mengakuinya.
  2. Skor yang tinggi berarti bahwa subjek berusaha menampakkan diri sebaik mungkin di hadapan orang lain, menyembunyikan hal-hal yang kurang baik tentang dirinya dalam tes yang mengakibatkan dia mengisi MMPI dengan tidak secara jujur atau banyak berbohong.
  3. Orang yang mendapat skor rendah termasuk orang yang tegang, kurang mawas diri, dan berpendirian agak kaku.

Skala F :

  1. Skala ini terdiri dari 64 pernyataan dan jarang sekali dijawab sesuai dengan arah skoringnya.
  2. Bila terdapat skor tinggi pada skala ini, maka kebenaran tes kurang dapat dipercayai.
  3. Bila terdapat skor yang rendah pada skala ini, maka subjek mengerti benar apa yang ditanyakan dan mengisi tes sesuai instruksi.
  4. Individu dengan skor yang rendah biasanya tergolong orang yang konvensional, dapat diandalkan dan mempunyai minat-minat terbatas.

Skala K :

  1. Skala yang terdiri dari 30 butir pernyataan untuk mengukur sikap subjek terhadap tes.
  2. Skor tinggi subjek berarti subjek bersikap defensif, tidak mau mengakui kekurangan atau kelemahan psikologisnya.
  3. Skor yang sedang berarti subjek memiliki kekuatan ego yang baik, dapat menyesuaikan diri dengan keadaan dan memiliki kemampuan adaptif yang baik.
  4. Skor rendah berarti subjek terlalu terbuka, terlalu kritis terhadap dirinya, kurang puas dengan kedaannya, serta bersedia mengakui gangguan dan gejala-gejalanya.

Skala Klinis

Skala 1 :

  1. Skala yang terdiri dari 33 pernyataan dan menggambarkan dimensi gangguan fisik dan fungsi tubuh.
  2. Skor tinggi berarti subjek terlalu memperhatikan kesehatan tubuhnya dan merasakan keluhan-keluhan somatik lebih dari yang biasa.
  3. Skor rendah berarti subjek memiliki energi yang penuh, ambisius, tidak memiliki hambatan-hambatan, dan tidak menghiraukan keluhan fisik.

Skala 2 :

  1. Skala yang terdiri dari 60 butir pernyataan yang menggambarkan dimensi depresi.
  2. Skor tinggi berarti individu mengalami depresi, suka memikirkan sesuatu dengan perasaan cemas dan pesimistik.
  3. Skor sedang berarti subjek berekasi baik terhadap psikoterapi.
  4. Skor rendah berarti subjek mempunyai pandangan hidup yang optimistik, gembira, spontan dan kadang-kadang kurang mengalami hambatan.

Skala 3 :

  1. Skala yang terdiri dari 60 pernyataan yang menggambarkan konversi.
  2. Skor tinggi menunjukkan adanya ketidakmatangan, represi yang bersifat histeris, mudah terpengaruh oleh sugesti-sugesti dan mudah bereaksi secara emosional.
  3. Skor rendah berarti subjek kurang spontan dan seorang yang kurang senang berpatisipasi dengan orang-orang lain.

Skala 4 :

  1. Skala yang terdiri dari 50 pernyataan dan menggambarkan orang yang tidak menghiraukan nilai-nilai sosial, kurang mampu mengambil manfaat dari pengalaman dan sukar mengadakan hubungan interpersonal yang lama.
  2. Skor tinggi berarti subjek adalah impulsif, kurang mampu memberikan reaksi emosional yang mendalam, dan marah terhadap orang lain.
  3. Skor sedang berarti subjek adalah orang yang suka berpetualangan, suka bergaul dan suka berbicara banyak.
  4. Skor rendah berarti subjek adalah seorang yang penurut dan tidak banyak tingkah lakunya.

Skala 5 :

  1. Skala yang terdiri dari 60 pernyataan untuk wanita dan 60 pernyataan untuk pria serta menggambarkan minat dan perhatian terhadap orang yang tidak sejenis.
  2. Skor tinggi pada pria berarti dia termasuk orang yang sensitif, memiliki minat dan kesenangan yang bersifat feminim.
  3. Skor tinggi pada wanita berarti dia termasuk orang yang kompetitif, agresif, maskulin dan aktif.
  4. Skor rendah pada pria berarti dia suka berpetualang, lebih suka bersikap dan bertindak aktif.
  5. Pada wanita, skor rendah berarti minat yang bersifat sangat feminim, pasif dan bersedia menerima tugas-tugas yang berat.

Skala 6 :

  1. Skala yang terdiri dari 40 butir pernyataan dan mengambarkan dimensi kecurigaan, merasa dikejar dan gejala paranoid.
  2. Skor tinggi pada skala ini berarti subjek mempunyai sifat sangat curiga yang besar, disertai dengan kurangnya perhatian terhadap lingkungannya, kurang ada kontak sosial dan keras kepala.

Skala 7 :

  1. Skala yang terdiri dari 48 pernyataan dan menggambarkan sindrom neurotik, seperti fobia, obsesi dan kompulsif.
  2. Skor tinggi berarti subjek mengalami kecemasan, berpendirian kaku, sangat ragu-ragu, dan memiliki kepercayaan diri kurang.
  3. Skor rendah berarti subjek dapat berpikir teratur dan baik, realistik dan dapat menggunakan kemampuan-kemampuannya dengan lancar dan mudah.

Skala 8 :

  1. Skala yang terdiri dari 78 pernyataan dan menggambarkan dimensi psikopatologi pikiran aneh serta tingkah laku yang banyak kaitannya dengan skizofrenia.
  2. Skor tinggi berarti subjek kurang suka bergaul, suka menarik diri dari lingkungannya, melakukan hal-hal yang berada di luar norma-norma masyarakat.
  3. Skor rendah berarti subjek merupakan orang yang konvensional, terkontrol, dan memiliki ciri-ciri orang penurut.

Skala 9 :

  1. Skala yang terdiri dari 49 pernyataan dan menggambarkan dimensi hipomania, emosionalitas, impulsivitas, pikiran-pikiran dan aktivitas-aktivitas yang berlebihan.
  2. Skor tinggi berarti subjek mempunyai tingkat energi yang tinggi, kurang tenang, gelisah, tidak sabar dan hiperaktif.
  3. Skor tinggi sekali berarti subjek menderita gangguan bipolar tipe manik.
  4. Skor rendah berarti subjek mempunyai tingkat energi yang rendah, tidak kompetitif, dan kurang percaya diri.

Skala 0 :

  1. Skala yang terdiri dari 70 pernyataan dan menggambarkan dimensi minat untuk berpatisipasi secara sosia.
  2. Skor tinggi berarti subjek adalah pemalu, kurang pandai bergaul dengan orang lain, sensitif dan lebih suka menyendiri.
  3. Skor rendah berarti subjek suka bergaul, ramah, dan banyak mengadakan hubungan interaktif dengan orang lain.

Demikian pembahasan singkat tentang tes psikometri MMPI. Tes yang sering dilakukan untuk petugas kesehatan haji Indonesia adalah tes MMPI 2 yang sebelumnya sudah saya bahas di halaman tersebut. Apabila ada kritik dan saran silahkan meninggalkan komentar.

 

About Syaifuddin Zuhri 133 Articles
Seorang muslim, praktisi medis di sebuah rumah sakit provinsi, lulusan fakultas kedokteran Undip, alumni TKHI 2015 SUB 25

4 Comments

    • Bisa ada eliminasi, stelah psikometri akan masuk nominasi daerah dan nominasi nasional, kalau lolos nanti masuk ke pelatihan kompetensi dan integrasi. Setelah pelatihan pun masih bs tidak lolos, misalnya saja nih : tiba2 hamil, maka ada peraturan yg tidak memperbolehkan orang hamil nakk pesawat, atau tiba2 kecelakaan dan lain sebagainya. Semoga di berikan kesempatan untuk membahasnya lbh lanjut

      • Nominasi daerah diseleksi dengan cara apa pak Zuhri? Apakah setiap nominasi daerah langsung ke Pelatihan Kompetensi pak? Saya TKHI pak. Terima kasih pak sebelumnya.

        • Untuk sistem nominasinya kami tidak tahu. Mungkin dengan sistem penilaian, kalau ndak salah ada permenkes yang mengatur pembobotan poin, cuma ini hanya perkiraan saja. Begitu nilainya sudah keluar, maka akan diurutkan per-embarkasi. Nominasi nanti akan menyesuaikan dengan jumlah kloter tiap embarkasi. Maaf karena kami diluar kepanitian jadi tidak bisa menjawab lebih jauh lagi

Kami bukan PANITIA REKRUTMEN, terima kasih telah menyesuaikan pertanyaan/komentar