Penjelasan Tentang Haji

Bolehkan tkhi berhaji

Pengertian Haji

Haji adalah berkunjung ke Baitullah (Ka’bah) untuk melakukan beberapa amalan antara lain: wukuf, mabit, thawaf, sa’i, dan amalan lainnya pada masa tertentu, demi memenuhi panggilan Allah Swt. dan mengharapkan ridha-Nya.

suasana saat thawaf musim haji 2015 M kemarin

Hukum Haji

Ibadah haji diwajibkan bagi kaum muslimin yang telah mencukupi syarat-syaratnya. Ibadah haji diwajibkan hanya sekali seumur hidup. Selanjutnya baik yang kedua atau seterusnya Hukumnya sunat. Akan tetapi bagi mereka yang bernazar haji menjadi wajib melaksanakannya.

Waktu Mengerjakan Haji

Ibadah haji dilaksanakan pada bulan haji (Dzulhijjah), yaitu pada saat jemaah haji wukuf di Padang Arafat pada hari Arafah (9 Dzulhijjah), hari Nahr (10 Dzulhijjah) dan hari-hari Tasyriq (11 s.d. 13 Dzulhijjah).

Hikmah Miqat Zamani dan Miqat Makani

Miqat Zamaniadalah ketentuan waktu untuk melaksanakan ibadah haji, sedangkan Miqat Makani adalah ketentuan tempat di mana seseorang harus memulai niat haji atau umrah.
Kedua miqat tersebut mengisyaratkan bahwa haji mengandung nilai ibadah yang besar, dan perlunya memperhatikan waktu dan tempat dalam melaksanakan ibadah haji. Seseorang yang akan berhasil memiliki nilai kemuliaan dalam ibadah hajinya manakala dia dapat memperhatikan ketentuan waktu dan tempat, kapan dan di mana amalan ibadah haji yang rukun dan wajib dapat dimulai dan diakhiri.

Syarat, Rukun dan Wajib Haji

Syarat Haji adalah:
1). Islam
2). Baligh (dewasa)
3). Aqil (berakal sehat)
4). Merdeka (bukan hamba sahaya)
5). Istitha’ah (mampu) Istitha’ah artinya mampu, yaitu mampu melaksanakan ibadah haji ditinjau dari segi:
       a). Jasmani: Sehat dan kuat, agar tidak sulit melaksanakan ibadah haji.
       b). Rohani:
            (1) Mengetahui dan memahami manasik haji.
            (2) Berakal sehat dan memiliki kesiapan mental untuk melaksanakan ibadah haji dengan perjalanan yang jauh.
       c). Ekonomi:
            (1) Mampu membayar Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) yang ditentukan oleh pemerintah yang berasal dari usaha/harta yang halal.
            (2) BPIH bukan berasal dari satu-satunya sumber ke hidupan yang apabila dijual menyebabkan kemudaratan bagi diri dan keluarganya.
            (3) Memiliki biaya hidup bagi keluarga yang ditinggalkan.
       d). Keamanan:
            (1) Aman dalam perjalanan dan pelaksanaan ibadah haji.
            (2) Aman bagi keluarga dan harta benda serta tugas dan tanggung jawab yang ditinggalkan.
            (3) Tidak terhalang seperti pencekalan/mendapat kesempatan atau izin perjalanan haji termasuk mendapatkan kuota tahun berjalan.

Rukun haji ialah rangkaian amalan yang harus dilakukan dalam ibadah haji dan tidak dapat diganti dengan yang lain, walaupun dengan dam. Jika ditinggalkan maka tidak sah hajinya.
Rukun haji adalah:
1). Ihram (niat)
2). Wukuf di Arafat
3). Thawaf ifadhah
4). Sa’i
5). Cukur
6). Tertib

Wajib haji ialah rangkaian amalan yang harus dikerjakan dalam ibadah haji, bila tidak dikerjakan sah hajinya akan tetapi harus membayar dam; berdosa jika sengaja meninggalkan dengan tidak ada uzur syar’i.
Wajib haji adalah:
1) Ihram, yakni niat berhaji dari Miqat
2) Mabit di Muzdalifah
3) Mabit di Mina
4) Melontar Jamrah Ula, Wustha dan Aqabah.
5) Thawaf wada’ (bagi yang akan meninggalkan Makkah).

Baca juga : Pelayanan kesehatan di Armina

Hikmah Haji Ibadah haji sebagai salah satu rukun Islam yang merupakan penutup dan penyempurna dari keislaman seseorang di hadapan Allah subhanahuwata’ala. Hikmah ibadah haji ini sangat banyak sekali yang dapat diperoleh oleh orang-orang yang melaksanakan ibadah haji sesuai dengan tata urutan rukun dan wajib haji yang dilaksanakannya. Hikmah tersebut dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-harinya, namun secara umum hikmah haji dapat membebaskan seseorang dari dosa-dosa yang pernah diperbuatnya sehingga kembali ke fitrah kesuciannya sebagaimana ia waktu dilahirkan dari rahim ibunya, sesuai sabda Rasulullah Saw.:

Artinya: Barang siapa yang melaksanakan haji karena Allah dengan tidak berbuat rafats (kata-kata kotor) dan tidak berbuat fusuk (durhaka), maka ia kembali suci seperti bayi yang baru dilahirkan dari kandungan ibunya (tanpa dosa). (HR. Bukhari dan Muslim). 

Kesucian kefitrahan sebagaimana disebutkan dalam hadits tersebut akan menghantarkan seseorang kepada kenikmatan surga sesuai yang disabdakan Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam

Artinya: Haji yang mabrur tiada imbalan yang setara kecuali surga. (HR. Mutafaq ’Alaih).

About Syaifuddin Zuhri 134 Articles
Seorang muslim, praktisi medis di sebuah rumah sakit provinsi, lulusan fakultas kedokteran Undip, alumni TKHI 2015 SUB 25

Be the first to comment

Kami bukan PANITIA REKRUTMEN, terima kasih telah menyesuaikan pertanyaan/komentar