Pemeriksaan Kesehatan Calon Jemaah Haji Tahap Pertama

Kesehatanhaji.com – Pemeriksaan Kesehatan Calon Jemaah Haji Tahap Pertama adalah upaya penilaian status kesehatan pada seluruh jemaah haji, menggunakan metode pemeriksaan medis yang dibakukan untuk mendapatkan data kesehatan bagi upaya-upaya perawatan dan pemeliharaan, serta pembinaan dan perlindungan.

pemeriksaan kesehatan calon jemaah haji riau – detikriau.org

Pelaksanaan pemeriksaan dilakukan oleh oleh Tim Pemeriksa Kesehatan di Puskesmas yang ditunjuk oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.

FUNGSI

Pemeriksaan Kesehatan Tahap Pertama berfungsi sebagai :

  1. Identifikasi, karakterisasi dan prediksi, serta penentuan metode eliminasi faktor risiko kesehatan jemaah haji
  2. Dasar upaya perawatan dan pemeliharaan kesehatan, serta upaya-upaya pembinaan dan perlindungan kesehatan jemaah haji.

PROSEDUR PEMERIKSAAN

Prosedur pemeriksaan adalah tata cara pelaksanaan pemeriksaan kesehatan bagi jemaah haji.

  1. Jemaah haji mengajukan permintaan Pemeriksaan Kesehatan untuk mendapatkan Surat Keterangan Pemeriksaan Kesehatan bagi kelengkapan pendaftaran haji. (Lampiran 1)
  2. Pemeriksaan kesehatan jemaah haji di Puskesmas sesuai tempat tinggal/domisilinya.
  3. Pemeriksaan kesehatan dilakukan sesuai protokol standar profesi kedokteran meliputi pemeriksaan medis dasar sebagai berikut : 1). Anamnesis 2). Pemeriksaan fisik 3). Pemeriksaan penunjang 4). Penilaian kemandirian 5). Tes kebugaran
  4. Hasil pemeriksaan dan kesimpulannya dicatat dalam Catatan Medik dan disimpan di sarana pemeriksaan.
  5. Catatan Medik merupakan sumber data dan dasar pengisian Buku Kesehatan Jemaah Haji (BKJH) setelah buku tersebut tersedia.
  6. Hasil pemeriksaan kesehatan menjadi dasar penerbitan Surat Keterangan Pemeriksaan Kesehatan oleh dokter pemeriksa
  7. Surat Keterangan Pemeriksaan Kesehatan diserahkan oleh jemaah sebagai kelengkapan dokumen perjalanan ibadah haji di Kantor Kementerian Agama. (lampiran 1)
  8. Jemaah haji yang memenuhi syarat dapat segera diberikan imunisasi Meningitis meningokokus (MM). Pelaksanaannya diatur oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Penatalaksanaan imunisasi terlampir (lampiran 2).
  9. Dokter mengeluarkan Surat Keterangan Vaksinasi atau Profilaksis sebagai dasar penerbitan International Certificates of Vaccination (ICV) oleh Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP). Contoh Surat Keterangan Vaksinasi atau Profilaksis terlampir (lampiran 3)
  10. Kepala Puskesmas bertanggungjawab atas pelaksanaan Pemeriksaan Kesehatan Tahap Pertama dan melaporkan hasilnya kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
  11. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kota selanjutnya melaporkan rekapitulasi hasil Pemeriksaan Kesehatan Tahap Pertama kepada Kepala Daerah dengan tembusan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi.
  12. Pembiayaan Pemeriksaan Kesehatan diatur menurut kebijakan daerah setempat.

 

STANDAR PEMERIKSAAN

Standar pemeriksaan adalah spesifikasi minimal yang harus dipenuhi dalam pemeriksaan kesehatan agar dapat diperoleh manfaat pelayanan kesehatan secara maksimal.

  1. Pemeriksaan Kesehatan dilakukan oleh Tim Pemeriksa Kesehatan yang memenuhi kualifikasi/standar pemeriksa.
  2. Pemeriksaan kesehatan jemaah haji dilakukan oleh dokter dan didampingi seorang perawat. Pemeriksaan jemaah haji pria sedapat mungkin oleh dokter pria, atau oleh dokter wanita dengan didampingi perawat pria. Pemeriksaan jemaah haji wanita sedapat mungkin oleh dokter wanita, atau oleh dokter pria dengan didampingi perawat wanita.
  3. Jenis pemeriksaan kesehatan bagi Jemaah Haji (JH) dapat dikelompokkan menjadi pemeriksaan pokok, pemeriksaan lanjut dan pemeriksaan khusus.
  4. Pemeriksaan Pokok adalah pemeriksaan yang harus dilakukan pada semua JH. Data yang diperoleh meliputi identitas, riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik (tanda vital, postur, syaraf kranial, toraks, abdomen), kesehatan jiwa dan laboratorium klinik rutin. 
  5. Pemeriksaan Lanjut adalah pemeriksaan tambahan yang perlu dilakukan pada JH WUS-PUS, memiliki indikasi gangguan metabolic (metabolic syndrome), Lansia (usia ≥ 60 tahun) dan pendamping jemaah uzur/sakit.
  6. Pemeriksaan Khusus adalah jenis pemeriksaan yang dilakukan atas dasar indikasi medis pada JH yang menderita suatu penyakit, dimana penyakit tersebut belum dapat ditegakkan diagnosisnya dengan data pemeriksaan pokok dan lanjut.
  7. Pemeriksaan kesehatan dilakukan secara holistik dengan pemeriksaan medis dasar sebagai berikut :

1). Identitas, terdiri dari : a) Nama, dilengkapi dengan bin/binti, b) Tempat dan tanggal lahir, c) Alamat tempat tinggal/domisili, d) Pekerjaan, e) Pendidikan terakhir, f) Status perkawinan,

2). Riwayat Kesehatan
a) Riwayat Kesehatan Sekarang, meliputi : (1). Penyakit menular tertentu. (2). Penyakit tidak menular/disabilitas.
b) Riwayat Penyakit Dahulu, meliputi penyakit yang pernah diderita (termasuk operasi yang pernah dijalani), ditulis secara kronologis.
c) Riwayat Penyakit Keluarga, meliputi jenis penyakit yang diderita anggota keluarga yang berhubungan secara genetik.

3). Pemeriksaan fisik, meliputi :
a) Tanda vital: (1). Tekanan darah, (2). Nadi meliputi : frekuensi, volume, tegangan, ritme. (3). Pernapasan meliputi : frekuensi, ritme. (4). Suhu, diukur di aksila dengan termometer air raksa.
b) Postur tubuh (termasuk tinggi badan, berat badan, dan indeks massa tubuh).
c) Kepala : pemeriksaan saraf kranial, mata, Telinga, Hidung, Tenggorok dan Leher.
d) Paru/toraks :

  • Inspeksi : simetrisitas, retraksi, venektasi, bentuk dada, penggunaan otot bantu napas
  • Palpasi : fremitus
  • Perkusi : (sonor/hipersonor, pekak/redup)
  • Auskultasi : vesikuler, ronki, mengi/wheezing

e) Kardiovaskuler

  • Inspeksi : pergeseran impuls apikal
  • Palpasi : tekanan vena jugularis, kuat angkat impuls apikal, pergeseran impuls apikal
  • Perkusi : batas jantung (konfigurasi jantung)
  • Auskultasi : bunyi jantung, bising jantung

f) Abdomen

  • Inspeksi : vena ektasi, hernia
  • Palpasi : nyeri epigastrium, pembesaran organ abdomen, perabaan ginjal, massa abnormal
  • Perkusi : nyeri ketok sudut kostovertebral, asites
  • Auskultasi : bising usus

g) Ekstremitas : bentuk, kekuatan otot, refleks
h) Pemeriksaan jiwa, menggunakan instrumen pemeriksaan Barthel Indeks Bagian 3: Fungsi Perilaku (Lampiran 4) dan Algoritme Pemeriksaan Kesehatan Jiwa. (Lampiran 5)

4). Pemeriksaan Penunjang
a) Laboratorium
(1). Darah 

(a). Semua jemaah meliputi ; hemoglobin, hematokrit, lekosit, trombosit, golongan darah (A-B-0 dan bila perlu Rhesus), laju endap darah.
(b). Jemaah dengan indikasi meliputi : gula darah sewaktu dan profil lemak darah.

(2). Urin

(a). Makro : warna, bau, kejernihan, derajat keasaman, berat jenis
(b). Mikro : sedimen (lekosit, eritrosit, sel epitel, kristal)
(c). Glukosa urin
(d). Protein urin
(e). Tes kehamilan (dengan reagen beta-HCG) bagi jemaah haji wanita pasangan usia subur atau jemaah haji wanita lainnya atas indikasi)

b) Elektrokradiografi (EKG)

Bagi Jemaah dengan indikasi gangguan metabolic dan Lansia.

c) Radiologi Dada

Bagi Jemaah dengan indikasi gangguan metabolic dan Lansia. 

5). Penilaian kemandirian,

Menggunakan instrumen pemeriksaan Barthel Indeks Bagian 1 (Penilaian fungsi Perawatan Diri) dan 2 (Penilaian Fungsi Kerumahtanggaan dalam Aktivitas keseharian). (Lampiran 4)

6). Tes Kebugaran.

Pemeriksa dapat memilih salah satu metode yang sesuai dengan kondisi jemaah dan ketersediaan sarana-prasarana. (Lampiran 6).

Lanjutan Standar Pemeriksaan

8. Setiap jemaah haji wanita diinformasikan perihal ketentuan Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama dan Menteri Kesehatan tentang Calon Haji Wanita Hamil Untuk Melaksanakan Ibadah Haji. Salinan SKB terlampir. (Lampiran 7).

9.Setiap jemaah haji wanita pasangan usia subur diharuskan menandatangani surat pernyataan di atas meterai tentang kesediaan menunda keberangkatannya bila menjelang keberangkatannya diketahui hamil dengan kondisi kehamilan di luar ketentuan yang diperkenankan menurut SKB Menteri Agama dan Menteri Kesehatan. Formulir Surat Pernyataan terlampir (Lampiran 8).

10. Bagi jemaah haji wanita hamil : Dilakukan konseling, informasi, dan edukasi tentang ketentuan penyelenggaraan kesehatan haji, serta diberikan alternatif solusi yang dapat diambil. Tidak dilakukan pemberian imunisasi meningitis meningokokus ACW135Y.

11. Dokter pemeriksa menuliskan diagnosis kesehatan jemaah haji dan kesimpulan hasil pemeriksaan.

12. Diagnosis berupa penyebutan nama dan kode. Kode diagnosis ditulis sesuai dengan kode ICD-X .

13. Kesimpulan hasil pemeriksaan dibuat dalam kategori Mandiri, Observasi, Pengawasan atau Tunda. Selengkapnya lihat tabel (Lampiran 15).

14. Dokter pemeriksa membuat Surat Keterangan Pemeriksaan Kesehatan yang memuat kesimpulan hasil Pemeriksaan Kesehatan Tahap Pertama dan diserahkan kepada jemaah haji.

15. Ringkasan hasil pemeriksaan kesehatan ditulis dengan lengkap dan benar dalam Buku Kesehatan Jemaah Haji, sesuai petunjuk pengisian BKJH (Lampiran 9)

16.  Bagi jemaah haji Non-Risiko Tinggi (risti), BKJH disimpan di sarana Pemeriksaan Kesehatan sampai satu bulan sebelum dimulainya operasional embarkasi haji tahun berjalan. BKJH tersebut selanjutnya diserahkan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, sebagai kelengkapan dokumen penetapan kalaikan dan selanjutnya diserahkan kepada jemaah haji sebelum keberangkatan ke embarkasi (asrama) haji.

17. Bagi jemaah haji Risiko Tinggi (risti), BKJH dapat digunakan sebagai dokumen rujukan oleh Puskesmas ke rumah sakit rujukan untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatan lanjut dan atau khusus.

18. Jemaah haji dibekali Surat Pengantar Rujukan Pemeriksaan yang dibuat oleh dokter Pemeriksa Kesehatan Puskesmas untuk mendatangi rumah sakit yang ditunjuk agar mendapatkan Pemeriksaan Kesehatan. Contoh Surat Rujukan Pemeriksaan Kesehatan terlampir (Lampiran 10)

19. Untuk kepentingan penegakkan diagnosis, penentuan metode perawatan dan pemeliharaan kesehatan, maka jenis pemeriksaan dapat ditambah sesuai kebutuhan.

20. Dokter Pemeriksa Kesehatan Puskesmas berhak mendapatkan hasil pemeriksaan kesehatan oleh Dokter Pemeriksa Kesehatan Rumah Sakit/Rujukan sebagai bahan informasi untuk melengkapi BKJH.

21. Dokter Pemeriksa Kesehatan Puskesmas bertanggungjawab atas kelengkapan isi BKJH.

22. Dokter Pemeriksa melaporkan data hasil pemeriksaan dan rekapitulasinya kepada Pusat Kesehatan Haji secara periodik, secara langsung atau berjenjang melalui Dinas Kesehatan.

23. Data Pemeriksaan Kesehatan Jemaah Haji dikompilasi dan disampaikan melalui surat elektronik ke Pusat Kesehatan Haji up Bidang yang ruang lingkupnya meliputi kegiatan pemeriksaan kesehatan jemaah haji. Rekapitulasi hasil pemeriksaan kesehatan menggunakan format formulir yang disediakan.

24. Rekapitulasi disampaikan dapat disampaikan kepada pihak-pihak tertentu sebagai informasi kesehatan jemaah haji.

25. Kepala Puskesmas bertanggung jawab atas pelaksanaan Pemeriksaan Kesehatan Puskesmas dan melaporkan hasil akhir pemeriksaan kesehatan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota selambat-lambatnya tiga minggu sebelum operasional embarkasi haji dimulai. Formulir laporan terlampir (Lampiran 13).

 

STANDAR PEMERIKSA

Standar pemeriksa adalah rumusan kriteria ketenagaan minimal yang harus tersedia untuk mencapai standar pemeriksaan yang ditetapkan. Pemeriksa Kesehatan Tahap Pertama adalah Tim Pemeriksa Kesehatan yang akan menjalankan fungsi Penilaian Kesehatan di Puskesmas.
Penetapan Tim Pemeriksa Kesehatan dilakukan dengan pertimbangan sebagai berikut :

  1. Tim Pemeriksa berjumlah sekurang-kurangnya empat orang, yaitu : 1). satu orang dokter umum pria atau wanita, 2). satu orang perawat wanita, 3). satu orang perawat pria dan 4). satu orang analis laboratorium kesehatan. 
  2. Tenaga kesehatan yang ditetapkan sebagai Tim Pemeriksa Kesehatan harus mempunyai legalitas untuk melaksanakan fungsi profesinya (mempunyai SIP yang masih berlaku bagi dokter, dan SK Jabatan Fungsional bagi tenaga kesehatan lain).

 

STANDAR FASILITAS

Standar fasilitas adalah rumusan kriteria tempat dan fasilitas minimal yang harus tersedia untuk mencapai standar pemeriksaan yang ditetapkan. Pemeriksaan Kesehatan Pertama dilakukan di Puskesmas yang ditunjuk. Puskesmas yang ditunjuk sebagai tempat Pemeriksaan Kesehatan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :

  1. Memiliki prasarana gedung yang memadai bagi pelayanan
  2. Memiliki fasilitas diagnostik ter-kalibrasi.
  3. Memiliki fasilitas laboratorium sederhana
  4. Memiliki sarana dan manajemen catatan medik yang baik.

Semoga bermanfaat, disarikan dari pedoman tehnis pemeriksaan calon jamaah haji

About Syaifuddin Zuhri 133 Articles
Seorang muslim, praktisi medis di sebuah rumah sakit provinsi, lulusan fakultas kedokteran Undip, alumni TKHI 2015 SUB 25

4 Comments

    • Lampirannya ada di petunjuk tehnis pemeriksaan jemaah haji, silahkan cari pdf nya di google

Kami bukan PANITIA REKRUTMEN, terima kasih telah menyesuaikan pertanyaan/komentar