Alasan Bidan Tidak Bisa Menjadi Petugas Kesehatan Haji

Tenaga kesehatan bidan sepertinya memang harus legowo dengan keputusan pemerintah Republik Indonesia ini. Pasalnya profesi Bidan sekarang tidak lagi menjadi kualifikasi yang dibutuhkan sebagai petugas kesehatan haji Indonesia.
Kalau kita belajar sejarah pelayanan kesehatan haji, dulu memang pernah ada rekrutmen tenaga kesehatan haji dari profesi bidan. Namun seiring dengan banyaknya tenaga kesehatan di Indonesia dan mulai gencar-gencarnya kompetensi tenaga kesehatan, maka semua tenaga kesehatan secara bertahap dikembalikan sesuai dengan kompetensinya masing-masing. Harapannya, tidak akan ada lagi yang berebut untuk melayani masyarakat dan masyarakat sekarang juga mulai cerdas memilih kemana mereka harus berobat saat sakit.
Terkait dengan permasalahan bidan tidak bisa lagi sebagai tenaga kesehatan haji, maka kita harus mengetahui dahulu apa itu bidan, apa tugas-tugasnya dan seberapa jauh kewenangan/kompetensi yang dapat dilakukan oleh bidan.
Pengertian Bidan seperti dikutip oleh petugaskesehatanhajiblog (23/04/2016) dari website IBI 

Bidan adalah seorang perempuan yang lulus dari pendidikan Bidan yang diakui pemerintah dan organisasi profesi di wilayah Negara Republik Indonesia serta memiliki kompetensi dan kualifikasi untuk diregister, sertifikasi dan atau secara sah mendapat lisensi untuk menjalankan praktik kebidanan.

Bidan adalah tenaga professional yang bertanggung-jawab dan akuntabel, yang bekerja sebagai mitra perempuan untuk memberikan dukungan, asuhan dan nasehat selama masa hamil, masa persalinan dan masa nifas, memfasilitasidan memimpin persalinan atas tanggung jawab sendiri dan memberikan asuhan kepada bayi baru lahir, dan bayi.

Asuhan ini mencakup upaya pencegahan, promosi persalinan normal, deteksi komplikasi pada ibu dan anak, dan akses bantuan medis atau bantuan lain yang sesuai, serta melaksanakan tindakan kegawat-daruratan.

Bidan mempunyai tugas penting dalam konseling dan pendidikan kesehatan, tidak hanya kepada perempuan, tetapi juga kepada keluarga dan masyarakat. Kegiatan ini mencakup pendidikan antenatal dan persiapan menjadi orang tua serta dapat meluas pada kesehatan perempuan, kesehatan seksual atau kesehatan reproduksi dan asuhan anak.

Bidan dapat praktik diberbagai tatanan pelayanan: termasuk di rumah, masyarakat, Rumah Sakit, klinik atau unit kesehatan lainnya.

Dilihat dari Standar Kompetensi Bidan yang ada saat inipun, tidak ada poin yang membuat pemerintah tetap menjadikan bidan sebagai petugas kesehatan haji. Bukan berarti bidan tidak mampu, hanya saja pemerintah memang ingin memberikan yang terbaik untuk pelayanan kesehatan haji, sehingga menunjuk profesi lain yang memang khusus menangani hal ini. Dahulu bidan terlibat dalam pelayanan kesehatan haji mungkin karena jumlah tenaga kesehatan perawat masih sangat kurang, namun seiring dengan jumlah perawat yang semakin banyak, tugas bidan dikembalikan ke posisi yang semestinya.

Bagaimana dengan Jemaah Haji yang Hamil? Apakah Pemerintah tidak mau memfasilitasinya?

Tentu saja Pemerintah memfasilitasi, tapi bukan dengan mengirimkan tenaga kebidanan, karena proses tindakan medis melahirkan di negara lain berbeda dengan di Indonesia.
Pemerintah melihat pelayanan persalinan di Arab Saudi pun sudah baik, mulai dari ketersediaan sarana dan prasarana maupun dari prosesnya. Mungkin itu yang menjadi pertimbangan pemerintah tidak mengirimkan tenaga bidan sebagai tim kesehatan haji indonesia.

Sebenarnya pemerintah sudah meminimalisasi calon jemaah haji hamil saat musim haji dengan mengeluarkan SKB tiga menteri tentang Calon Jemaah Haji Hamil. Peraturan tersebut membatasi calon jemaah haji yang hamil untuk menunaikan ibadah haji dengan cara menunda keberangkatan sampai kriteria umur kehamilan tersebut terpenuhi.

Bidan sebagai tenaga terampil dibidang kegawatan. Apakah bisa dijadikan pertimbangan sebagai TKHI?

Bidan dengan sertifikasi BTCLS boleh melakukan tindakan emergency sebagaimana perawat, namun karena kompetensi dasar bidan adalah tentang persalinan, maka kebanyakan berguna di bidang tersebut. Bidang kegawatan yang lain tentu tidak bisa disamakan dengan profesi perawat.

Mungkin itu beberapa alasan mengapa profesi bidan tidak lagi diberi amanah oleh pemerintah sebagai petugas kesehatan haji Indonesia. Tapi jangan khawatir, karena setiap niat yang baik akan dicatat oleh Allah. Bagi bidan-bidan yang akan menjalankan ibadah haji, boleh nanti sesekali membantu teman-teman tim kesehatan haji Indonesia di kloternya masing-masing, itu akan sangat membantu dan insyaAllah pahalanya besar karena kesempatan beramalnya di Tanah Suci. Bagi Bidan yang memang ingin dan bisa mendaftar sebagai TKHI bisa membaca lebih jauh di artikel Celah Bidan Bisa Menjadi Petugas Kesehatan Haji Indonesia menurut peraturan terbaru.
Demikian ulasan singkat dari kami, apabila ada kritik dan saran silahkan disampaikan lewat kolom komentar.

About Syaifuddin Zuhri 134 Articles
Seorang muslim, praktisi medis di sebuah rumah sakit provinsi, lulusan fakultas kedokteran Undip, alumni TKHI 2015 SUB 25

Be the first to comment

Kami bukan PANITIA REKRUTMEN, terima kasih telah menyesuaikan pertanyaan/komentar